Tampilkan postingan dengan label Pemasaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemasaran. Tampilkan semua postingan

Kamis, Januari 08, 2009

Keterpurukan General Motors




































































Berbagai faktor baik yang bersifat eksternal maupun internal telah membuat General Motors, salah satu perusahaan otomotif Amerika yang terkemuka mengalami keterpurukan di tengah-tengah krisis ekonomi saat ini. Situasi itu digambarkan secara apik oleh Jess Bachman.

Sumber:
http://mydigitalwhiteboard.wordpress.com

Selasa, Agustus 12, 2008

Dilusi merek

Sebagai dampak peluncuran extended product, citra merek yang sudah lama terbangun bisa mencair dan kabur di mata konsumen. Gara-gara extended product, nama merek bisa-bisa tak lagi membangkitkan asosiasi (produk) tertentu, sehingga terjadilah dilusi merek.
Contoh extended product yang mungkin bisa mendilusi merek adalah ekstensi merek Harley-Davidson. Memakai nama merek ini diluncurkanlah rokok, bir, aftershave, crayon dan cafĂ©. Citra merek Harley-Davidson bisa dirumuskan sebagai ‘tangguh’ dan ‘maskulin’. Dari pola asosiasi ini, misalnya, produk aftershave murahan dengan nama HD nampaknya akan merusak citra merek Harley-Davidson. Untungnya menurut riset Roedder John dkk., extended product yang tergolong dalam kategori produk yang benar-benar berbeda dari flagship product tak begitu berdampak pada dilusi merek.
Roedder John dkk. mencoba mengotak-atik dua dimensi: jarak produk antara flagship product dan extended product (kecil vs besar) dan perbedaan proposisi antara kedua produk (kecil vs besar). Bila perbedaan proposisi besar, bahaya dilusi merek tidak perlu dikawatirkan, namun hanya jika jarak produk antara flagship dan extended product besar. Jadi aftershave Harley-Davidson akan sangat mungkin tidak mendilusi nilai merek Harley-Davidson. Barangkali konsumen cukup cerdas untuk menalar bahwa kualitas aftershave Harley-Davidson tidak berpengaruh pada kapasitas HD membuat sepeda motor bagus.
Sebaliknya, dilusi merek bisa terjadi apabila perbedaan proposisi kedua produk besar dan jarak produknya kecil. Dalam kasus HD hal ini bisa terjadi jika, misalnya, scooter dijual dengan nama merek Harley-Davidson. Karena scooter lebih cocok untuk gaya-hidup yang berbeda, maka meskipun jarak produknya kecil, perbedaan proposisinya besar. Sebenarnya, akhir 1950an, Harley-Davidson memperkenalkan HD Topper, motor scooter dengan bodi fiberglass dan cat two-tone dan mengiklankannya sebagai ‘tops in beauty and tops in performance’. Beberapa tahun berikutnya, Topper ditarik dari pasaran. Menurut Roedder John dkk, ekstensi yang dimiliki HD Topper lebih berdampak pada dilusi merek Harley-Davidson dibanding produk semacam aftershave.
Gara-gara dilusi merek, ekstensi malah membuat konsumen kehilangan sentuhan (touch) dengan merek. Karena pelanggan loyal tidak begitu berminat pada extended product, maka mereka bisa saja mengubah pola pembeliannya. Agar tidak tejadi fenomena kerenggangan ini, pemasar perlu menimbang satu kriteria relevan saja, yakni extended product mesti sesuai dengan asosiasi inti merek, dan lebih baik lagi kalau extended product mampu mengangkat atau memperkuat profil asosiasi inti merek itu lebih lanjut. Jadi dalam hal strategi ekstensi ‘jangan terlalu tamak’.

Sabtu, Agustus 09, 2008

Ekuitas Merek

Kendati perannya telah terhitung sejak lama, namun baru pada abad 20 merek dan asosiasi merek menjadi begitu penting bagi pemasar. Bisa dikatakan pemasaran modern diwarnai oleh penciptaan berbagai merek. Pemasar saat itu mulai mengandalkan riset untuk membantu mereka merumuskan dan mengembangkan basis diferensiasi merek. Penggunaan atribut, nama, kemasan, strategi distribusi, dan iklan diyakini bisa memantapkan asosiasi merek yang unik. Sejak saat itu, terjadi pergeseran besar-besaran dari komoditas menjadi produk bermerek. Alhasil dalam membeli sebuah produk, konsumen tidak lagi sekedar berpatokan pada tinggi rendahnya harga, namun lebih melihat basis diferensiasi merek. Sejak itu pertumbuhan merek baru makin bertumbuh pesat. Ribuan merek baru dilansir tiap tahunnya.
Nah, kini kita tahu beda antara merek dan produk, namun tahukah anda bahwa perlu waktu berpuluh tahun untuk menyadari perbedaan ini secara eksplisit dalam ilmu pemasaran? Kalau kita runut ke belakang, maka pakar pertama yang menjlentrehkan perbedaan ini adalah Gardner dan Levy yang menulis artikel pada tahun 1955 dengan judul ‘The product and the brand’.
Merek punya nilai tertentu bagi perusahaan, dan nilai itu bisa saja berlipat-ganda dari nilai real estate, gedung dan mesin-mesin milik perusahaan. Mungkin karena itulah banyak pakar mempertanyakan apakah entri di neraca (seperti mesin atau gedung) cukup memberi gambaran realistik mengenai nilai perusahaan sebenarnya. Tak heran kalau sebagian pakar mendesak dimasukkannya nilai merek dalam neraca. Berseberangan dengan itu adalah mereka yang berpendapat bahwa terlalu sulit menentukan nilai merek yang sebenarnya.
Mudahnya, nilai merek bagi perusahaan kita sebut ‘ekuitas merek’. Di awal tahun 1980an istilah ini makin populer di kalangan finansial Amerika. Awalnya, ekuitas merek lebih dianggap sebagai aset (finansial) yang penting bagi perusahaan sehingga ekuitas merek bisa ditafsirkan sebagai nilai finansial merek. Pertengahan 1980an, istilah ‘ekuitas merek’ juga menjadi perhatian dunia pemasaran. Di dunia pemasaran, ekuitas merek selain diakui mampu menjanjikan keuntungan finansial, sekaligus juga berarti manfaat manajemen dan stratejik. Pakar lain menggunakan istilah ‘ekuitas merek’ guna menunjukkan nilai merek di mata konsumen. Akhir tahun 1980an, dunia pemasaran di Barat diwarnai dengan diskusi yang membahas metode ekuitas merek sebagai tema sentral. Langkah awal menuju konseptualisasi nilai merek bagi perusahaan ditulis oleh David Aaker dalam bukunya, Managing Brand Equity, terbit tahun 1991.
Makin sengitnya persaingan sejak dekade 1980an, lalu tuntutan pasar yang cepat berubah serta makin kuatnya kekuatan peritel dan juga dampak tekanan investor, membuat profiteering menjadi tujuan utama perusahaan. Investor atau pemegang saham kerap tak sabar pada reward tertunda, sehingga investasi merek jangka panjang tak begitu diprioritaskan. Pada tahun 1990an fenomena ini mendorong reorganisasi portofolio merek, merek yang tak-menguntungkan disingkirkan atau dijual. Bagi merek-merek lain, upaya jangka pendek (seperti promosi penjualan) sering menjadi solusi dari kemauan investor dan ancaman eksternal. Karena lebih bersifat jangka pendek, para manajer bergelar MBA itu kadang diolok-olok sebagai ‘Murderers of Brand Assets’. Karenanya Aaker mengusulkan adanya brand equity managers yaitu pejabat yang diberi wewenang guna mencegah nilai merek makin tergerus. Konsep brand equity managers ini menunjukkan bahwa merek sukses diakui sebagai aset penting perusahaan.
Definisi merek juga berubah dari merek sebagai product-plus menjadi merek sebagai konsep. Dulu, merek adalah pelengkap produk: pabrikan membuat produk dan lalu sebuah nama dilekatkan, yang kemudian perlu dibuat bermakna di mata konsumen (merek sebagai product-plus). Namun, kini tak sedikit kita jumpai perusahaan yang mengembangkan konsep yang mereka harapkan bisa memikat kelompok konsumen tertentu (merek sebagai konsep). Konsep ini disusun dan diterjemahkan dalam strategi komunikasi. Baru setelah itu dicari produk dan pabrikannya (maka merek lebih dilihat sebagai konsep independen, yang dapat dikaitkan dengan sejumlah produk). Pendekatan brand-as-a-concept menjadi makin penting akhir-akhir ini; contohnya The Body Shop. Menurut pandangan lama, strategi perusahaan adalah ‘product-driven,’ dan menurut paradigma baru, strategi lebih bersifat ‘market-driven.’
Inti pendekatan brand-as-a-concept adalah bahwa pemasar lebih dulu membuat konsep menarik dan kuat yang tidak terlalu berakar pada keunggulan produk tapi lebih ke lifestyle yang bisa diasosiasikan dengan merek (Nike, Swatch, dll.). Pendekatan brand-as-a-concept juga menyiratkan adanya pergeseran pemasaran dari manajemen transaksi ke manajemen relasi (relationship marketing), di mana merek menjadi link penghubung antara pemilik merek dan pengguna merek.