Senin, November 17, 2008

Mengelola Modal Intelektual menghadapi persaingan global

Dalam lingkungan bisnis global yang selalu berubah dan menuntut kemajuan teknologi, bagaimana mendapatkan dan mempertahankan karyawan unggul merupakan ajang kompetisi tersendiri. Seperti halnya tim olah raga yang agresif merekrut atlet-atlet terbaik, organisasi bisnis masa depan akan bersaing ketat demi mendapat karyawan terbaik. Hanya sedikit orang yang mumpuni. Perusahaan sukses adalah mereka yang paling mahir dalam menarik, mengembangkan dan mempertahankan orang-orang dengan kecakapan, wawasan dan pengalaman memadai untuk menggerakkan bisnis. Manajer yang paling dicari memiliki modal intelektual yang dibutuhkan untuk menciptakan dan mendistribusikan barang dan jasa ke dalam bisnis global.

            Mengamankan modal intelektual berarti mengembangkan kepemimpinan. Kepemimpinan masa depan fokus pada tim dan merupakan kepemimpinan bersama, tidak lagi dikuasai satu orang. Kepemimpinan masa depan lebih merupakan process pioneering dan pengambilan resiko berkelanjutan ketimbang kecakapan memecahkan masalah. Untuk menyesuaikan diri dengan tren ini, pemimpin bisnis masa depan harus menjadi GloPats, yaitu para manajer yang tidak canggung bermain di berbagai konteks global, yang menghargai dan dapat mengatasi perbedaan budaya sembari menyeimbangkan skala ekonomi global dengan kemampuan merespon pasar lokal. Pengisian posisi kepemimpinan dengan pemimpin jenis baru butuh model kepemimpinan baru. Para pemimpin yang memiliki keterampilan yang dibutuhkan di masa depan boleh jadi belum tersedia saat ini, tapi mereka dapat diciptakan atau ditemukan.

            Mengamankan modal intelektual juga berarti belajar berbagi gagasan dan informasi ke segenap perusahaan dengan lebih cepat. Beberapa perusahaan besar saat ini sedang mencoba knowledge networks dengan memanfaatkan teknologi (misalnya Internet dan electronic bulletin boards) untuk memfasilitasi lkonsultansi individual sehingga mampu menemukan dan berbagi pengetahuan dengan cepat.  Dari beberapa studi tentang organisasi pembelajar, ditemukan bahwa pembelajaran berlangsung di tempat-tempat dimana gagasan dilahirkan (misalnya pendekatan kerja baru) dan disebarkan secara merata ke seluruh bagian perusahaan. Mengamankan modal intelektual berarti gagasan-gagasan baru disemai dan disebarkan. Manajer dan profesional SDM harus mendorong kebijakan dan praktik yang memfasilitasi pembelajaran ini.

            Mengamankan modal intelektual berarti tidak sekedar pembelajaran, namun pembelajaran cepat (rapid learning). Perusahaan yang melakukan rapid learning mampu menyebarkan gagasan dan inovasi dengan cepat secara lintas batas melalui perbaikan proses alur informasi. Rapid learning akan menyusul setelah para manajer mengubah peluang menjadi visi, mentransformasikan visi menjadi aksi dan menyelaraskan aksi dengan konsumen. Pengelolaan proses yang efektif menciptakan organisasi di mana half-life of intellectual capital terus memendek. (Dalam istilah pengetahuan, half-life berarti waktu yang dibutuhkan agar setengah dari pengetahuan khusus yang kita miliki telah menjadi pengetahuan publik). Menciptakan organisasi di mana modal intelektual secara teratur terbaharui akan menjadi aspek penting bagi kerja SDM di masa depan.

            Tugas mengamankan modal intelektual mengubah proses pengukuran di perusahaan. Ukuran kesuksesan yang sejak dulu fokus pada economic capital (misalnya profitabilitas atau kinerja finansial), kini harus disertai dengan ukuran modal intelektual. Perumusan, penemuan dan penggunaan ukuran tersebut termasuk tantangan utama yang dihadapi profesional SDM masa depan.

 

Jumat, November 14, 2008

Biografi Obama: Misi dari Planet Kripton

Di sebuah acara makan malam untuk pengumpulan dana kampanye, Barack Obama pernah melontarkan guyonan bahwa dia sebenarnya utusan planet Kripton yang membawa misi menyelamatkan dunia. Kisah tentang Obama bukanlah kisah tentang orang yang meraih kejayaan dari kekayaan, namun kisah tentang seorang ’outsider’ yang dengan gilang gemilang mampu menemukan jalur ’insider’ bagi dirinya.

Dia selalu mampu mengatasi tantangan sebagai ‘orang luar’, apakah itu sebagai satu-satunya anak Amerika di sebuah sekolah dasar di Indonesia, atau sebagai salah satu dari lima pelajar non kulit putih dari 1.600 siswa di SMA terfavorit di Hawaii. Terbentuk oleh orang-orang di sekitarnya, dibarengi dengan kualitas pribadinya yang cerdas, membumi, rendah hati sekaligus disiplin, dia berbakat merangkul banyak teman sekaligus merubah pandangan orang.  Nah, sekarang dia ingin merubah Amerika, dan tentunya itu bisa berarti merubah dunia.  

Barack Hussein Obama II dilahirkan pada tanggal 4 Agustus 1961 di Honolulu dari rahim seorang mahasiswa Universitas Hawaii yang masih amat belia, gadis kulit putih pindahan dari Kansas yang pindah ke negara bagian itu bersama orang tuanya.  Ayahnya, Barack Obama Sr., seorang mahasiswa asing dari Kenya yang mendapat beasiswa belajar di Hawaii. Sebenarnya dia telah memiliki empat anak karena menikah muda pada umur 18 tahun, namun istrinya telah diceraikannya sebelum berangkat ke Amerika. 

Orang tua Obama berpisah ketika dia masih berusia dua tahun.  Setelah perceraian pada tahun 1964 itu, ayahnya kembali ke Kenya di mana dia menikah kembali dan memiliki  tambahan tiga anak lagi. Dia hanya sempat menengok Obama sekali pada tahun 1971, sebelum satu kecelakaan mobil merenggut nyawanya pada tahun 1982.  Auma Obama, adik tiri Obama, mengatakan :  ”Ayah selalu bicara tentang dia, bahwa satu hari kelak Barack akan pulang ke Kenya”.

Sementara Ann Dunham melanjutkan kuliahnya setelah bercerai, dia terpaksa hidup dari kupon bantuan makanan pemerintah dan bantuan dari orang tuanya untuk merawat Obama sendirian. Akhirnya dia menikah lagi dengan mahasiswa asing Universitas Hawaii lainnya, Lolo Soetoro dari Indonesia.

Keluarga muda ini kemudian pindah ke Jakarta yang baru terguncang oleh pergantian rezim. Seiring ekonomi yang membaik, adik tiri Obama, Maya lahir pada tahun 1970.  Sebentar Obama mencoba membaur di SD Katolik Asisi, namun tak bertahan lama. Di sekolah dasar yang baru SDN Besuki, Obama atau yang akrab dipanggil Barry, langsung mencuri perhatian. Dia satu-satunya wajah non-Indonesia di kelas yang dipenuhi anak-anak yang lebih kurus dan pendek.  Kebiasaan Barry memakai tangan kiri nampak aneh di mata-mata temannya yang memandang hal itu kurang sopan. Namun dalam waktu tak lebih dari tiga bulan dia sudah mahir berbahasa Indonesia dan mulai punya banyak teman.

Banyak orang yang penasaran bagaimana reaksi Obama pada serangan terhadap Amerika Serikat, dan boleh jadi kita bisa sedikit mengira-ngiranya dari satu kejadian di masa kecilnya.

Seorang anak nakal pernah melempar Obama dengan batu membuat kepalanya berdarah.  ”Obama hanya diam saja, ibunya selalu melarang dia berkelahi”, kenang seorang teman yang lain. ”Dia tidak pernah nakal atau berbuat usil. Dia bisa dibilang anak yang mendapat banyak limpahan kasih sayang”.  Menginjak usia sepuluh tahun, ibunya Ann yang waktu itu bekerja dengan USAID, mengirim Obama ke Hawaii untuk tinggal bersama kakek-neneknya, Madelyn dan Stanley Dunham.

Pengaruh didikan mereka begitu mendalam di saat yang tepat pula, dan bisa dipahami apabila Obama terpaksa  cuti dari kampanyenya untuk mengunjungi neneknya yang sedang memburuk kesehatannya. Dikabarkan dia tak mampu membendung linangan air mata ketika dikabari kepergian neneknya hanya selang sehari sebelum hari pemilihan presiden.

Pada Perang Dunia Kedua, Madelyn bekerja di pabrik pesawat tempur di Kansas sementara suaminya pergi berperang.  Begitu perang berakhir, mereka pindah dan mendapatkan rumah di Hawaii mengikuti program pemerintah bagi para eks pejuang perang. Merekalah contoh-contoh positif bentuk dukungan negara  yang kemudian membekas pada pemikiran Obama.  Mereka bekerja keras agar Ann mendapat pendidikan yang terbaik. Maka ketika cucu mereka balik ke Hawaii mereka menyokong biaya sekolah Obama hingga kemudian bisa melanjutkan ke sekolah elit di SMA Punahou. 

Pengalamannya bersekolah di sana tidak selalu mulus. Dia hanya segelintir pelajar berkulit hitam di sekolah itu, namun dia tidak pernah mengeluh dan emosinya tak pernah terpancing setiap kali dia diusik.  Hanya selang beberapa tahun kemudian, ketika Obama menggambarkan siksaan rasial yang dialaminya di masa remaja dalam buku biografinya, Dreams From My Father, baru sahabat-sahabat karibnya saat itu menyadari betapa terluka hatinya.

Bagi mereka dia tidak lebih dari remaja biasa yang melihat karir satu-satunya di masa depan hanyalah sebagai pemain basket dan yang tidak terlepas dari godaan mariyuana, kokain dan alkohol.  Selanjutnya Obama belajar ilmu politik di Universitas Columbia, New York dan merintis karir sebagai wartawan ekonomi. Setahun kemudian dia memanfaatkan program potongan pajak dan pindah ke Chicago untuk menjadi direktur LSM yang didanai gereja. Dia merasa pekerjaannya itu lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Atasannya waktu itu, Gerald Kellman, berkata: “Dia bersedia membela kepentingan orang miskin dan orang-orang yang terpuruk karena diskriminasi. Dia sangat idealistis. Obama terinspirasi oleh Dr Martin Luther King dan gerakan persamaan hak-hak sipil.”

Obama harus menjadi anggota sebuah gereja untuk mendapat dukungan pimpinan gereja bagi proyek-proyek LSM-nya dan dia bergabung pada Trinity United Curch of Christ, di mana Oprah Winfrey juga pernah tergabung.

Untuk melapangkan jalannya, Obama balik kuliah dan dengan gilang gemilang meraih summa cum laude di Sekolah Hukum Harvard. Di sela-sela liburnya dia pulang pergi ke Chicago, di mana dia bertemu gadis bernama Michelle Robinson di sebuah kantor pengacara tempat mereka sama-sama bekerja. Mereka bertunangan dua tahun kemudian dan dinikahkan pada tahun 1992 oleh Pendeta Dr Jeremiah Wright di gereja Trinity.

Loretta Augustine-Herron, salah satu undangan pernikahan berkata : “Kami tahu dia akan melenggang meraih cita-citanya. Bahkan di acara resepsi dia bertanya apa yang bisa dilakukan untuk teman-temannya. Saya hanya berteriak: ’Barack, satu-satunya yang kuinginkan adalah tiket masuk pesta perjamuan kepresidenan setelah kau dilantik’.”

Obama terus berjuang sebagai pengacara hak-hak sipil, membangun reputasi nasional yang kemudian sukses mengawalnya ke dunia politik. Buku Dreams From My father diterbitkan pada tahun 1995,  tahun di mana ibunda Obama meninggal karena kanker. Tidak lama berselang, anak pertamanya lahir. Dia memiliki dua anak perempuan, Malia dan Sasha.

Dia mencalonkan diri sebagai senator Illinois pada tahun 2004 dan terpilih menjadi senator berkulit hitam kelima dalam sejarah Amerika. Hanya tinggal satu langkah lagi... Ternyata itu terwujud tepat pada tanggal 4 November 2008.

Sumber Utama: The Sun

Senin, November 10, 2008

Budaya Korporat yang Adaptif

Budaya korporat yang bisa membantu organisasi mengantisipasi dan beradaptasi terhadap perubahan lingkunganlah yang akan menghasilkan kinerja superior dalam jangka panjang. Sedangkan budaya tidak adaptif umumnya sangat birokratis. Anggota organisasi sangat reaktif, menghindari risiko, dan tidak begitu kreatif. Informasi tidak mengalir dengan cepat dan mudah ke segenap bagian organisasi. Penekanan terhadap kontrol secara luas memperlemah motivasi dan antusiasme. Budaya adaptif tentunya kebalikan dari itu semua dan memiliki karakteristik yang sangat berbeda.

          Menurut Ralph Kilmann, budaya adaptif diwarnai oleh pendekatan pengambilan risiko, saling percaya dan proaktif. Para anggota aktif mendukung upaya koleganya untuk mengidentifikasi masalah dan menerapkan solusi efektif. Setiap orang saling percaya, mereka yakin tanpa ragu bahwa mereka mampu mengelola masalah dan peluang apapun secara efektif. Semua orang memiliki antusiasme yang sama, semangat untuk melakukan apapun untuk mencapai sukses organisasi. Para anggota terbuka terhadap perubahan dan inovasi.”  Rosabeth Kanter berargumen bahwa budaya adaptif menghargai dan mendorong kewirausahaan yang akan membantu perusahaan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan  dan memungkinkan organisasi mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang–peluang baru. Kotter memiliki pandangan yang sama, hanya dia menekankan kepemimpinan ketimbang entrepreneurialisme. Dia berargumen bahwa fungsi utama kepemimpinan adalah menggerakkan perubahan, dan jika satu budaya mendukung aktivitas tersebut ke seluruh hirarki perusahaan, maka akan terbentuk sikap berani mengambil risiko, inisiatif, komunikasi, dan motivasi.

                    3M adalah contoh kasus. Perusahaan 3M secara sadar mempromosikan budaya yang mampu menghadapi perubahan. Sudah bertahun-tahun para manajer 3M mencoba meraih angka persentase penjualan minimum dari ’produk baru’. Perusahaan memiliki norma budaya yang mendorong pendanaan inisiatif pengembangan yang prospektif, terutama bila inisiatif itu muncul dari level terbawah. Perusahaan bangga karena terbuka mengevaluasi gagasan–gagasan baru dan mengambil risiko secara cermat. Dalam proses ini, perusahaan mampu menciptakan bidang-bidang usaha baru yang penting.

          Tom Peters adalah tokoh yang paling gigih membela konsep budaya adaptif. Untuk menyingkirkan model ekonomi tradisional yang berfokus pada pemegang saham, Peters menekankan pada “pelanggan” dan menyatakan bahwa bila budaya menghargai pelanggan, dan menciptakan perubahan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, budaya itu akan membantu menciptakan organisasi adaptif. 

Kotter menekankan pentingnya semua konstituen yang mendukung bisnis, khususnya pelanggan, pemegang saham, dan karyawan. Kotter tidak pernah menyatakan secara eksplisit mengapa budaya manajerial perlu memperdulikan konstituen tersebut. Namun logika implisitnya begini: para manajer akan berjuang melipatgandakan kinerja ekonomi bila mereka peduli pada kepentingan pemegang saham, dan dalam industri yang kompetitif hal ini hanya mungkin terjadi bila mereka sungguh-sungguh peduli pada pelanggan, dan dalam pasar tenaga kerja kompetitif hal ini hanya mungkin terjadi bila mereka peduli pada  orang–orang yang melayani pelanggan, yaitu karyawan. Dengan kata lain, Kotter menyatakan bahwa lingkungan yang harus diadaptasi oleh para manajer terdiri dari para konstituen tersebut. Kotter berargumen bahwa perusahaan tidak akan bisa beradaptasi terhadap perubahan dengan sukses sebelum para manajer memperhatikan pihak–pihak tersebut.